Tuhan, berilah aku keberanian untuk mengucapkan selamat pagi kepadanya. *** Pagi tak pernah terasa pagi bagiku. Tidak ada perbedaan pagi, siang, sore dan malam yang signifikan aku pikir. Semuanya sama, gelap terang terasa sama. Karena selalu ada dia yang menetralkan suasana hatiku. Bagiku, dialah angin pagi yang berhembus semilir dalam benakku, berputar-putar seperti angin siklon yang tiada henti. Menjadi pelampiasan memoir yang terus bergelut dalam hari. Dia adalah dia, yang kupuja dan kunikmati di pagi hari. “Hei, pagi?” Dia menengok ke arahku sebentar kemudian kembali mencermatiku buku cetaknya yang agak tebal. Apakah dia mendengarku? Atau hanya mencari gerakan untuk melepas rasa penat yang menumpuk? “Hei, pagi?” Dia kembali menoleh, menampakkan binar wajahnya yang berseri seperti angin segar di sore hari. Aku terdiam cukup lama. Memandanngya dalam ruang semuku yang berlapis gelap – walau esok telah pagi sekali pun. “Hei, pagi?” Semua salam dan sapaku ternyata tercekat di tenggorokan, ditarik dan dimasukkan paksa ke dada. Semuanya semu. Tidak ada yang benar-benar kuucapkan untuk ia dengar. Entah tadi ia menoleh ke sini untuk apa – aku pun tidak tahu. Yang jelas keberanianku selalu luntur begitu saja, aku tak pernah mampu mengucapkannya. Aku tak pernah mampu bersikap persuasif untuk mengadakan adu argumentasi dengannya. Mengapa aku begitu penakut? Dan hari ini, ketika para penuntut ilmu – yang kukira ilmu tidak memiliki kesalahan hendak bergegas ke pengadilan pendidikan, aku lagi-lagi hanya terkurung dalam keinginan konyol yang tak akan pernah bisa kuraih. Aku hanya dapat melirik malu-malu pada sesama penanti bus di halte biru yang atapnya penuh dengan bunga bugenvil. Membuat suasana menjadi terlihat bersahaja dengan cinta. Seperti alur drama yang dibuat-buat. Tapi kisah ini, tidak dibuat-buat. Sungguh-sungguh terjadi, seperti berita-berita di surat kabar. Dan bukan majalah infotainment. Hampir dua tahun ini aku menjalani rutinitas konyol di pagi hari, menunggu bus di halte hanya untuk bertemu dengannya. Berusaha bangun pagi agar tidak terlambat ataupun melewatkan kehadirannya. Memilih berdesak-desakan di bus daripada diantar dengan motor. Selalu datang tepat waktu, agar bisa melihat sosoknya dari awal hingga akhir. Semua hanya karena angin itu. Angin yang tak pernah mampu kujangkau, karena ia terus berhembus. Mengalir secara cepat bagaikan kilat. Padahal ia hanyalah angin. Seolah mataku tak pernah bisa lepas darinya, berbagai pertanyaan selalu muncul beriringan dengan sosoknya. Siapa namanya? Dari mana ia? Bisakah aku mengenalnya lebih jauh? Segala pertanyaan yang berhubungan dengannya melekat erat. Membuat rasa penasaranku semakin menguar dan terhembus kemana-mana. Aku hanya tahu dia murid dari SMA Pancasila – tak lebih. Itu pun karena seragam identitas yang dipakainya. Aku tak pernah berani mendekat, atau menggeser jangkah kakiku hanya untuk melihat nama yang terjahit di bajunya. Aku hanyalah pemujanya yang menghabiskan berwaktu-waktu demi mempertahankan masa untuk dapat melihatnya. Kalian pikir itu sia-sia? Tidak juga – bahkan mungkin memang tidak. Karena dengan melihatnya, bebanku yang bertumpuk bisa hilang. Tuhan, izinkanlah aku, untuk mengucapkan selamat pagi kepadanya. Sekali saja. Agar dia mengenangku sebagai teman penanti bus di kala pagi hari. Aku jadi berpikir, apakah ia peduli dan memberikan respon terhadap kehadiranku? Atau jangan-jangan ia malah tidak pernah tahu bahwa aku selalu di sini untuk menemaninya di pagi hari. Ah, ia terlalu suka bergaul dengan bukunya. Bukan dengan sesamanya. Atau setidaknya, kami berdua bisa mengobrol banyak di sini. Dan sebuah persegi panjang bermesin dengan lapisan baja yang beroda pun berhenti tepat di depan kami. Menghentikan dimensi-dimensi yang telah terjalin sedemikian rupa. Melepaskan momentum yang menimbulkan aksi dan reaksi yang tidak diharapkan. Kehadiran bus itu menghancurkan segalanya, mengakhiri kisahku di pagi ini bersama dia. Akankah ada esok pagi untuk melihatnya kembali?

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda